Oleh: Bertho Lojisua
Bingkai
ini kadang ku pandang sejenak. Ku rasa kau tahu dan ingat warna dan isinya. Aku
tidak sengaja utuk melihatnya tetapi kerena kebetulan saja. Sebenarnya aku
ingin membuang dari dalam kamarku sebab gambarmu di dalam bingkai ini semakin kehilangan
makna sesering waktu terus berlalu, kecuali kenangan dari bingkai ini yang
tetap utuh. Aku belum benar-benar tegah yang mungkin seperti dalam pikiranmu
bahwa bingkaimu akan kuremukan setelah kita saling meninggalkan pada saat itu.
Jika aku kan membuang itu hanya kalau aku berubah. Coba kau lihat betapa aku
tidak berubah untukmu aku tidak mudah berubah walau kau ingin berubah dengan
kehidupan barumu dan menganggapku telah lama. Atau kau menyisikan aku pada
deretan kesekian dari ingatanmu, lalu kau mencibir aku dan berkata ‘ah dirimu
hanya sepotong kenangan’.
Aku
ingin kau tahu aku belum terbiasa melupakanmu entah sampai kapan. Maafkan aku
jika terlalu lancang untuk berkata demikian, namun hanya kelancangan ini yang
bisa menjadi pendobrak sesak di dalam dada menjadi air mata. Aku bersyukur
akhirnya aku menangis, dan benar seperti yang kau katakan bahwa air mata itu
hangat dan asin, padahal dulu aku tak pernah merasakannya. Setelah surat ini ku
tulis dengan cinta yang tersisa dan dalam kebodohan yang aneh untukmu. Aku kan
pergi dan suatu saat bila kita bertemu kau harus katakan bahwa air mata itu
tajam dan menyejukan. Aku sudah merasakannya, coba kau rasakan bila itu sempat.
Frida
tak kuasa melanjutkan isi surat tersebut, ia menyandarkan dirinya pada belakang
pintu sambil menikmati air mata yang terus mengalir. Air mata yang hangat,
asin, tajam dan menyejukan. Surat yang tak pernah ia baca pada enam tahun yang
lalu, pada april yang hangat sehangat linangan air matanya.
“Maafkan
aku bila telah menipu dirimu dan diriku. Tuhan dimanakah dia aku ingin
memeluknya erat dan mengatakan air mata memang tajam”
Air
mata masih terus mengalir pada pipinya dan semakin tajam menembus semua masa
lalu hingga pada sudut terkecil dari perjalanannya bersama orang yang pertama
dicintainya. Kini ia menyesali semua keputusan untuk meninggalkan kekasih
lamanya yang telah enam tahun hilang dan kini datang tak disengaja seteleh ia
mencoba membuka tumpukan buku-buku sekolahnya yang usam yang lama tersimpan
pada kamar barang-barang bekasnya. Perbedaan keyakinan menjadi pisau yang
memisahkan dirinya dan kekasih lamanya. Mengikuti keinginan orang tua dan
menjaga nama baik keluarga adalah alasan mengapa Frida meninggal kekasih
lamanya. Dan yang alasan yang dilontarkan untuk berpisah di enam tahun lalu
ialah ‘Sebenarnya saya tidak mencintai dirimu dan kita harus mengakhiri
hubungan ini’.
Surat
itu terus digenggamnya erat. Seakan ingin kembali pada enam tahun lalu dan
mengatakan yang sebenarnya kepada kekasihnya. Atau kabur dari rumah orang
tuanya pada sebuah tempat asing yang asalkan dapat menikmati sisa hidup dalam
kejujuran hatinya. Namun kini ia harus menerima kenyataan bahwa ia tak mungkin
lagi mencari kekasih lamanya.
“Siang
sayang aku datang, dimana sih kamu?” buru-buru Frida menyeka air matanya dan
membuang surat yang tak habis terbaca kedalam karung berisi sampah-sampah
kertas yang akan ditimbang kilo.
“Iya
sayang aku di kamar belakang, ga usah ke sini dulu. Aku lagi bersih-bersih ni,
debunya banyak”
“Kog
pulangnya cepat sih? Tanya Frida separoh senyum, sambil masuk ke ruang tengah
menyambut suami pilihan Ayah dan Ibunya.
“Kan
mau ngantar kamu ke rumah sakit, hari inikan kita mau priksa kandunganmu sayang..”
jawab suaminya manja sambil merapikan rambut ikal Frida.
“Oh
ya aku lupa nih, mungkin karena terlalu asik bersih-bersih” Di dalam dasar hati Frida masih ada tentang surat yang terpenggal, namun kini surat itu hanya dalam hening hatinya. Ia meyakinkan diri bahwa itu hanyalah milik masa lalu kini ia milik suaminya yang mencintainya tanpa hening.
Frida
merangkul suaminya erat-erat sambil terus mengumpulkan rasa cinta yang kini
semakin mendalam. Dan merasakan sisa-sisa air matanya yang menempel pada kedua
pipinya, sambil Frida berharap semoga ini air mata terakhir untuk dia yang
entah dimana. Sementara suaminya memeluknya penuh rasa sayang dan Frida masih
menangis tanpa rasa asin dan hangat kecuali rasa tajam dalam hati yang
mudah-mudahan kan sejuk sebentar lagi.
Bertho-301212 'menangkap siluet yang separoh'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar